PENDAMPINGAN ANAK DALAM SITUASI SULIT
Anak merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak dari suatu peristiwa sulit. Berbagai peristiwa yang dapat menyebabkan munculnya trauma atau ‘luka psikologis’ pada anak antara lain: pelecehan seksual, kekerasan fisik, menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga atau terhadap orang lain, kecelakaan atau sakit parah, bencana alam, disandera atau diculik.
Pengalaman traumatis yang dialami dapat menyebabkan ‘luka psikologis’ pada anak.
· Awalnya anak menganggapdunia, ruah dan lingkungan tempat tinggalnya sebagai tempat yang aman, adil, penuh kasih sayang, menghargai dan melindunginya dari hal-hal buruk.
· Setelah peristiwa /situasi sulit terjadi, anggapan anak berubah. Anak menganggap dunia, rumah, lingkungannya menjadi tempat yang tidak aman, kejam, tidak bisa dpercaya, dan tidak bisa melindunginya.
· Pandangannya terhadap dirinya (konsep dirinya) mungkin juga berubah. Ia dapat menilai dirinya bukan anak yang baik, jahat dan sumber malapetaka, sehingga pantas jika ia dihukum dan mengalami situasi tersebut.
· Untuk dapat pulih dari ‘luka psikologis’ yang disebabkan oleh trauma, dibutuhkan waktu. Keberhasilannyapun sangat tergantung pada pemahaman, dukungan, dan perlindungan yng diberikan pleh
’Luka psikologis’ seperti ini seringkali tidak nampak dan sulit untuk terdeteksi, namun terus menerus ada dalam ingatan. Anak dapat terus memikirkan, merasakan dan terbayang-bayang peritiwa traumatis tersebut sehingga menyebabkan timbulnya berbagai perubahan dalam dirinya. Tiap anak memiliki beragam reaksi ketika mengalami peristiwa sulit, namun umumnya ditandai oleh adanya hal-hal berikut:
a. Rasa takut, cemas dan kewaspadaan berlebihan yang mungkin tampil pada anak...
Takut terhadap peristiwa sehari-hari yang mengingatkannya terhadap peristiwa traumatis yang pernah dialaminya, bahkan sampai mengalami serangan panik (sesak nafas, pingsan, jantung berdebar, lemas) dan stres.
Terus-menerus memikirkan peristiwa traumatis yang dialaminya
Merasa cemas jika menghadapi perubahan dalam lingkungannya
Merasa cemas atau khawatir peristiwa tersebut akan terulang di masa yang akan datang
Sangat mengkhawatirkan keadaan orang yang berarti untuknya.
Tidak mau berpisah dari orangtua atau orang yang ia percayai.
b. Perubahan perilaku yang mungkin dapat tampil pada anak:
Kemunduran dalam perilaku ataupun keterampilan yang sudah dikuasai sebelumnya:
- Mengompol
- Menghisap jari
- Kemunduran dalam berbahasa dan membisu
- Mengamuk, menangis berguling-guling
Tidak mau bergaul
Muncul tingkah laku merusak diri (self-destructive behavior): penggunaan obat terlarang, melakukan tindakan berbahaya, percobaan bunuh diri, dll.
c. Perubahan yang mungkin terjadi dalam proses berpikir
· Muncul bayangan yang mengganggu: ingatan, pikiran, mimpi buruk, dan kilas balik (yaitu: Perasaan seolah-olah kejadian di masa lalu terjadi lagi dihadapannya. Seakan-akan anak dapat melihat, mencium, merasakan, dan mendengar kejadian yang sama yang terjadi di masa lalu), yang menimbulkan stres.
· Merasa diri tidak mampu, tidak berharga
d. Kemungkinan hilangnya minat terhadap kegiatan yang menyenangkan atau sekolah
Tidak mau terlibat dalam permaianan
Sering tampak melamun dan tidak memperhatikan pelajaran
Membolos dan tidak peduli dengan nilai ulangan atau ujian
e. Keterkejutan dan kegelisahan mungkin direfleksikan dengan menceritakan dan menghidupkan kembali peristiwa traumatis melalui permainan
f. Kemungkinan terjadinya perubahan kepribadian
Berubah menjadi pendiam dan menarik diri
Menjadi penakut, kehilangan kepercayaan terhadap orang lain\
Mudah tersinggung, marah, dan/atau sedih
Depresi
g. Kemungkinan mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk
Sulit tidur
Merasa takut, dan tidak dapat tidur tanpa ditemani
Sering terbangun di malam hari
Sering bermimpi buruk dan memimpikan peristiwa traumatis yang menimpanya
h. Kemungkinan keluhan sakit dan nyeri
Mengeluh merasa sakit atau nyeri tanpa ada bukti dan penyebab medis
Ketika menghadapi situasi sulit, anak membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat mengenali apa yang dialaminya. Hal ini diperlukan, karena kemampuan anak (terutama usia prasekolah sampai dengan SD) untuk memahami apa yang teradi tidak seperti orang dewasa, sehingga anak sering kali kurang tepat memaknai pengalamannya. Misalnya, seorang anak usia 5 tahun bisa saja menyalahkan dirinya sebagai penyebab perceraian orangtuanya karena kenakalan dirinya (bertengkar dengan adik, tidak membereskan mainan dan semacamnya).
Secara garis besar ketika mendampingi anak dalam situasi sulit, orang dewasa perlu bersikap dan menampilkan tingkahlaku:
1. Mendengarkan apa yang diceritakan oleh anak, baik tentang perasaan ataupun pikirannya.
2. Menghargai perasaan dan pikiran anak. Semua perasaan yang dialami oleh anak adalah perasaan yang nyata. Anak benar-benar merasa takut, cemas, khawatir, sedih dan marah.
3. Membuat anak merasa aman dan tenang. Hal ini dapat dilakukan dengan membelai, memeluk, menggendong dan lain-lain
4. Meyakinkan anak, bahwa dia tidak sendiri dan kita selalu ada untuknya.
5. Membantu anak mengenali dan mengungkapkan apa yang dia rasakan (bila anak ingin menangis biarkanlah dia menagis)
6. Tidak lupa memperhatikan dan merawat kondisi kita sendiri, perasaan-perasaan (sedih, marah dll) yang ada, serta menjaga kondisi fisik (makan teratur, istirahat cukup).
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, masing-masing anak memiliki kekhasannya tersendiri, sesuai dengan tahapan perkembangannya. Begitu pula dengan reaksi anak ketika menghadapi situasi sulit. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tbel 1, 2,dan 3, di bawah ini. Pada tabel itu juga diuraikan secara ringkas tentang perkembangan anak pada umumnya dan bagaimana orang dewasa sebaiknya bersikap untuk membanu anak menghadapi situasi sulit yang dialaminya.
(Adaptasi dari modul "penguatan komunitas untuk perlindungan perempuan dan anak")
